Palangka Raya - Diakui atau tidak, Kalteng menjadi sorotan banyak negara di dunia
lantaran alamnya, ekosistemnya, sumber daya, dan hutannya yang menyimpan
ragam keunikan dibanding daerah lain. Tidak salah, banyak lembaga dunia
dalam bentuk Non Government Organization (NGO) atau organisasi non
pemerintah terutama bidang lingkungan asal luar negeri yang masuk ke
Kalteng.
Sayangnya,
gerakan dan aktivitas mereka ternyata belum mampu menyentuh kepentingan
masyarakat. Beberapa diantara organisasi lokal pun seperti LSM lokal,
media, bahkan masyarakat hanya berperan sebagai penonton. Kendati
menyandang nama organisasi lingkungan yang berpihak pada masyarakat,
kenyataannya tak banyak masyarakat Kalteng yang merasakan manfaatnya.
Kondisi ini mendorong keprihatinan
jurnalis dari berbagai media di Kalteng yang telah bersepakat membentuk
komunitas betang Jurnalis Bahijau (Bajubah) ingin peduli dan konsern
terhadap isu-isu terkini mengenai lingkungan. Sekaligus menempatkan
posisi sebagai jembatan antara masyarakat dan organisasi lingkungan
lainnya.
“Banyak NGO yang mengatasnamakan konsern
bidang lingkungan masuk ke Kalteng dan mengemukakan keberpihakannya
terhadap kepentingan masyarakat lokal, nyatanya tidak. Alih alih
memberdayakan, justru sebagian besar masyarakat tak banyak merasakan
manfaatnya. Melalui komunitas jurnalis yang perduli lingkungan inilah
kami ingin berbuat,” kata Kordinator Bajubah Roziqin, dihadapan Gubernur
Kalteng Agustin Teras Narang saat audensi bersama sejumlah pengurus,
Kamis (18/7/2013).
Mendengar hal ini, Teras pun langsung
menyatakan dukungannya terhadap gerakan komunitas. Bahkan ia juga
menegaskan jika memang kenyataannya saat ini NGO belum banyak berbuat
untuk masyarakat. Ia pun mengapresiasi sekaligus bangga terhadap
wartawan karena perduli terhadap isu lingkungan khususnya di Kalteng,
apalagi baru satu-satunya komunitas lingkungan yang dibentuk di daerah,
karena selama ini yang ada hanya dibentuk di pusat (Jakarta).
"Yang
ada saat ini NGO lingkungan asing datang ke Kalteng, membuat penelitian,
tapi hasilnya dibawa ke negara mereka dan digunakan untuk kepentingan
sendiri tanpa ada yang kembali untuk masyarakat sekitar lokasi
penelitian, mereka belum menerima manfaatnya. apalagi ternyata tidak ada
hasil penelitian yang bisa diterapkan di Kalteng. Mulai saat ini
Bajubah akan menjadi partner saya menyangkut persoalan lingkungan hidup.
Saya akan bina, namun jangan ada tendensi politik,” tegas Teras
mengingatkan.
Ia juga banyak bicara tentang kerusakan
lingkungan di Kalteng yang terjadi saat ini akibat sejumlah proyek yang
ternyata tidak direncanakan dengan baik. Teras juga mengungkapkan
rencananya untuk menyusun Sustainable Palm Oil System atau sistem
pembangunan kelapa sawit berkelanjutan. Alasan Teras, saat ini
perkebunan sawit sudah menjadi isu internasional, meski ada pro kontra
terkait baik dan buruknya perkebunan monokultur kelapa sawit.
"Mulai saat ini Bajubah akan menjadi
partner saya menyangkut persoalan lingkungan hidup. Kalteng merupakan
wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan hutan luas dihuni berbagai
jenis tanaman maupun binatang. Bahkan air hitam yang hanya ada dua di
dunia ini, yakni di sungai Amazon dan Sungai Sabangau Kalteng. Nah,
Komunitas Bajubah harus berperan membantu saya menyuarakan kekayaan itu
demi kemajuan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kalteng. Sisa
waktu saya dua tahun lagi, ayo kita bergerak bersama," pungkas dia.
(MZQ)
Sumber : www.menaranews.com
Editor : Raudhatul
09.50 | 0
komentar
